Menu ✖

Dark Mode
Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara Dosen UPN Veteran Jakarta Latih Petani Depok Olah Rambut Jagung Jadi Kombucha MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan Penasehat Khusus Presiden Sempat Datangi Sidang Gabriel, Minta Hakim Pertimbangkan Kemanusiaan Talkshow “Ada Apa dengan Negeriku” Soroti Kasus Ijazah dan Skandal Jiwasraya

Energi

Rupiah Semakin Nyungsep, Impor Minyak Jutaan Barel Setiap Hari, Devisa Terus Tergerus

Avatarbadge-check


					Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Doc. Sekretariat Kabinet) Perbesar

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Doc. Sekretariat Kabinet)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Mata uang Rupiah nyungsep ke posisi Rp16.312 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (19/12). Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah melemah 1,34% atau 215 poin.

Menyikapi kondisi ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai, pelemahan Rupiah berdampak pada sektor pertambangan dan energi.

Baca juga:
Alamak! Impor Minyak Mentah Melonjak 61,86% Pada Oktober 2024

Di sektor energi misalnya, kata Bahlil, Pertamina menjadi salah satu BUMN yang terpengaruh dalam pelemahan rupiah. Pasalnya, setiap hari Pertamina mengimpor jutaan barel minyak. Itu belum termasuk impor LPG.

Menurut Bahlil, impor minyak dan LPG dalam jumlah besar tersebut menyedot devisa sekitar Rp500-550 triliun per tahun.

“Nah di sektor ESDM memang salah satu yang membutuhkan dolar paling banyak itu adalah Pertamina. (Alasannya) kita ini mengimpor BBM kita termasuk LPG satu tahun, itu membutuhkan uang sekitar Rp500 triliun sampai Rp 550 triliun devisa kita keluar,” kata Bahlil, Kamis (19/12).

Selain itu, Bahlil juga mengakui nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS memberikan tekanan. Apalagi impor yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan energi, seperti Pertamina membutuhkan dolar AS.

“Dan itu pasti kita tukar dengan dolar. Nah terkait dengan urusan bisnis teman-teman ditambang karena spare part-nya kan harganya dolar pasti akan berdampak. Tapi kita lihat mudah-mudahan mampu di-manage dengan baik oleh pelaku usaha,” kata Bahlil.

Bahlil menilai pelemahan nilai tukar rupiah ini tak lepas dari kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu. Lebih lanjut, Bahlil menekankan pihaknya tengah berupaya menekan impor di sektor energi.

“Sekarang tugas kita itu adalah bagaimana mengurangi impor agar kemudian kebutuhan kita terhadap dolar tidak terlalu banyak. Naik atau turunnya sebuah nilai mata uang itu kan tergantung hukum permintaan sebenarnya,” ujar Bahlil.

[red]

Berita Terbaru

Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara

29 October 2026 - 11:18 WIB

Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis enam bulan penjara terhadap Gabriel Lumbantoruan alias Gabriel Sihombing dalam perkara pengisian ulang gas portabel. (Fot: Ist.)

MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla

29 October 2026 - 10:07 WIB

Founder Milenial Silampari Institut (MSI), Aqil Maulidan (Dok. Indonesiawatch.id)

Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan

24 October 2026 - 01:36 WIB

Ilustrasi para pengemudi ojek online.

Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian

4 September 2026 - 15:08 WIB

Tim kuasa hukum dari LBH Peradi Profesional (Ist.)

Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta

21 August 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi kemiskinan di Aceh di tengah kekayaan Sumber Daya Alam (Sumber: Pembuatan gambar ilustrasi didukung AI).
Populer Berita News Update