Menu

Dark Mode
Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta Boyamin: Permintaan Pengembalian Aset Justru Menguatkan Dugaan Kepemilikan Febrie Adriansyah Daftar Kekayaan 7 Kandidat Kapolri Pengganti Listyo Sigit Prabowo Isu Ganti Kapolri Kian Kencang, Ini Kriteria Pengganti Listyo Sigit Prabowo LBH Peradi Profesional: Polisi Dilarang Pakai Teknik Investigasi Terselubung di Tindak Pidana Migas

Opini

Otoritarianisme Partai: Gerindra Calonkan Prabowo Pada Pilpres 2029

Avatarbadge-check


					Prabowo Subianto (Reuters) Perbesar

Prabowo Subianto (Reuters)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, pada tanggal 13 Februari 2025 di Hambalang kediaman Presiden Prabowo, mengumumkan hasil Kongres Luar Biasa ke VII partai Gerindra.

Keputusannya, Prabowo Subianto dipilih kembali sebagai ketua umum dan Ketua Dewan Pembina partai Gerindra. Pada KLB ke VII partai Gerindra, juga disepakati untuk mengusung kembali Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.

Padahal Prabowo baru melewati 100 hari pemerintahannya. Sah-sah saja sikap politik Gerindra, untuk mencalonkan kembali Prabowo sebagai capres pada pilpres 2029. Apalagi di Gerindra tidak berjalan mekanisme kaderisasi pemimpin, karena sentralisasi kekuasaan berada di tangan Prabowo.

Mengusung kembali Prabowo sebagai Capres pada pilpres 2029, sementara Prabowo baru empat bulan memegang amanat sebagai presiden, dipandang sangat mengganggu kesantunan berpolitik.

Rakyat belum merasakan prestasi yang diraih Prabowo sebagai presiden, walaupun dalam 100 hari kepemimpinan Prabowo, tingkat kepercayaa publik cukup tinggi.

Tetapi telah diruntuhkan kembali oleh sikap Prabowo membuat pernyataan publik “Hidup Jokowi”, sebagai narasi yang membangun opini publik “mau jadi presiden harus lindungi presiden”. Hal ini tentunya kontradiksi dengan perjuangan rakyat untuk memenjarakan Jokowi.

Sikap politik Gerindra yang terlalu pagi untuk mengusung Prabowo, merefleksikan bentuk otoritarianisme partai yang melulu berorientasi pada kekuasaan, tanpa mempertimbangkan aspek etika politik.

Seharusnya ada pembuktian atas prestasi presiden Prabowo yang terbukti mengangkat harkat hidup rakyat dan kemampuan managerial Prabowo sebagai presiden untuk membangun sistem pemerintahan yang efisien dan efektif.

Otoritarianisme partai yang dipertontonkan oleh Gerindra, dipandang akan mendorong munculnya kebijakan Presiden Prabowo yang mengedepankan pragmatism dan populis.

Bisa jadi memaksakan kebijakan makan bergizi gratis, melalui pemangkasan APBN yang berdampak luas terhadap kelangsungan sector-sektor strategis, adalah kebijakan populis presiden Prabowo, semata-mata untuk membangun citra positif.

Jika kebijakan presiden Prabowo selama lima tahun ke depan, hanya demi membangun citra personal, dalam rangka merebut kursi presiden untuk kedua kalinya, tentunya rakyat tidak bisa berharap banyak, kepemimpinan Presiden Prabowo sebagai tahapan yang membawa perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih bermartabat.

Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta

21 August 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi kemiskinan di Aceh di tengah kekayaan Sumber Daya Alam (Sumber: Pembuatan gambar ilustrasi didukung AI).

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

3 May 2026 - 19:19 WIB

Ilustrasi tagar.

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)
Populer Berita Opini