Dua isu ini cocok, langsung menohok ke inti masalah yang sedang dihadapi oleh sebagian besar warga Banten. Mayoritas warga Banten hidup terlilit kemiskinan karena kualitas sumber daya manusia lemah akibat pendidikan rendah.
Banyak anak-anak muda putus sekolah atau tidak bisa sekolah sama sekali. Mereka tak mempunyai biaya untuk sekolah. Maka pilihan isu “Sekolah Gratis” itu tepat sekali.
Anti Korupsi. Ini juga tagline yang tepat dan laku sekali dijual. Isu “Tidak Korupsi” berkaitan dan berkorelasi dengan semangat dan agenda program Presiden Prabowo yang menghendaki tindakan korupsi di tanah air bisa diberantas sampai ke akar-akarnya.
Nah, dinasti Banten yang berada di belakang Airin tak bisa dipungkiri banyak disebut menjadi akar tindakan perbuatan korupsi di Banten. Sebagaimana tercatat dalam sejarah politik nasional mutakhir. Ratu Atut dan TB Chairi Wardhana (suami Airin), dan beberapa anggota keluarga pernah masuk jeruji karena kasus korupsi.
Jejak digital tentang kasus korupsi dinasti tersebar di media sosial. Maka, tagline “Tidak Korupsi” menemukan korelasi yang begitu kuat untuk Banten. Belakangan, catatan korupsi dinasti menjadi isu paling hot di media sosial dan inilah yang kemudian dijadikan peluru tajam dan panas yang ditembakan tepat ke jantung pertahanan Airin.
Di sisi lain, Andrasoni ditampilkan sebagai sosok pendatang baru yang bersih dan sederhana. Lahir dari kalangan rakyat biasa. Andrasoni memulai karirnya sebagai seorang kuli bangunan.
Tampilan tersebut berhasil menggambarkan bahwa kehadiran Andrasoni menjadi anti-thesa. Kontras sekali dengan penampilan sosok Airin yang terkesan borjuis dan elitis. Lahir dan dibesarkan dari keluarga ningrat Sunda Ciamis lalu menikah dengan anak pesohor kaya dari Banten.
Rupanya tampilan Andrasoni yang sederhana jauh lebih menarik perhatian bagi kaum milenial yang mulai jenuh dengan prilaku korup kaum elite borjuis negeri ini.
Faktor berikutnya ialah soal moralitas politik. Memang sulit dicari kaitan logikanya, namun bisa dirasakan pengaruhnya. Setidaknya ada tiga moralitas politik yang dilanggar oleh Airin.
Pertama, ada 300 ribu lebih suara dari wilayah Tangerang Raya yang diamanatkan langsung secara pribadi kepada Airin agar bisa menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat di DPR-RI. Itu amanah rakyat langsung kepada pribadi Airin.
Tapi amanah tersebut dibuang begitu saja. Sementara ada banyak orang yang ingin mendapat Amanah tersebut. Airin telah menyia-nyiakannya karena ambisi atau mengikuti ambisi dinasti yang ingin mengejar jabatan lebih tinggi, jadi gubernur, demi mempertahankan supremasi, hegeimoni, dan dominasi politik-ekonomi di Banten.
Moralitas kedua yang dilanggar oleh Airin dan dinasti adalah menyia- nyiakan tawaran yang datang dari Prabowo sebagai ketua Umum Partai Gerindra, sebuah tawaran yang menyenangkan. Prabowo semula menghendaki Airin bisa jadi calon gubernur berpasangan dengan Andrasoni sebagai calon wakil gubernur.
Tawaran tersebut konon ditolak mentah-mentah oleh Airin dengan alasan sudah mempunyai pasangan sendiri dari PDIP, Ade Sumardi. Bagi yang sudah mengenal karakter politik dinasti tentu faham kenapa Airin menolak tawaran Prabowo.
Moralitas ketiga, langkah-langkah politik Airin belum bisa lepas dan melepaskan diri dari bayang-bayang sang suami (populer disebut Kang Wawan) yang saat ini sedang menjalankan hukuman bebas bersyarat. Seharusnya Airin bisa tahu diri dan menahan diri untuk tidak bermain-main berhadapan dengan kekuatan politik penguasa.










