Menu ✖

Dark Mode
Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara Dosen UPN Veteran Jakarta Latih Petani Depok Olah Rambut Jagung Jadi Kombucha MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan Penasehat Khusus Presiden Sempat Datangi Sidang Gabriel, Minta Hakim Pertimbangkan Kemanusiaan Talkshow “Ada Apa dengan Negeriku” Soroti Kasus Ijazah dan Skandal Jiwasraya

Analisis

Transisi Energi Berisiko Tingkatkan Ketimpangan, SMERU Beberkan Rekomendasi untuk Melindungi Kelompok Rentan

Avatarbadge-check


					Ilustrasi transisi energi. (Dok. Pexel) Perbesar

Ilustrasi transisi energi. (Dok. Pexel)

Jakarta, Indonesiawatch.id — Dalam upaya menuju energi berkelanjutan, Indonesia menetapkan target ambisius, yakni mencapai emisi nol bersih atau net zero emission (NZE) pada 2060.

Namun, studi kolaboratif yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat–Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Australian National University, The SMERU Research Institute (SMERU), dan Institute for Essential Services Reform (IESR) menemukan bahwa transisi energi tersebut berpotensi memperparah kondisi kelompok rentan.

Skenario emisi nol bersih menunjukkan pergeseran drastis dari batu bara ke energi terbarukan. Berdasarkan dokumen perencanaan strategis dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, proporsi energi terbarukan dalam sektor energi dan ketenagalistrikan ditargetkan 34%-85% pada 2050.

Tim peneliti dari LPEM FEB UI, ANU, IESR, dan SMERU menyimulasikan dampak dekarbonisasi sektor energi terhadap kesejahteraan kelompok rentan di masyarakat, khususnya rumah tangga yang dikepalai perempuan, rumah tangga yang memiliki anggota keluarga orang dengan disabilitas, dan rumah tangga dengan anak atau lansia.

Analisis yang menggunakan model ekonomi Global Change Assessment Model (GCAM) dan Almost Ideal Demand System (AIDS) tersebut tidak hanya mengukur dampak perubahan harga dan kesejahteraan, tetapi juga merumuskan opsi kebijakan fiskal untuk melindungi kelompok rentan.

Peneliti Utama SMERU, Asep Suryahadi menjelaskan bahwa hasil simulasi menunjukkan skenario NZE dapat meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan secara signifikan dibandingkan dengan skenario referensi (tanpa kebijakan).

Rumah tangga yang memiliki anggota keluarga orang dengan disabilitas mengalami dampak kemiskinan paling besar, sementara rumah tangga yang dikepalai perempuan menghadapi penurunan ketimpangan terkecil.

Tim peneliti juga menyimulasikan dampak stimulus fiskal dalam merespons potensi peningkatan kemiskinan dan ketimpangan akibat transisi energi. “Hasilnya, stimulus fiskal atau cash transfer cukup efektif untuk membantu seluruh rumah tangga, termasuk rumah tangga rentan. Kebijakan ini bahkan mampu menurunkan tingkat ketimpangan hingga di bawah level pada skenario referensi,” ujar Asep.

Berdasarkan hasil stimulasi, tim peneliti menyampaikan tiga rekomendasi kebijakan: Pertama, perlunya perlindungan sosial yang menargetkan kelompok rentan dengan stimulus fiskal. Kedua, menggunakan pendapatan dari harga karbon untuk membiayai stimulus fiskal. Terakhir, mengintegrasikan aspek gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) ke dalam strategi transisi energi.

Berita Terbaru

Dosen UPN Veteran Jakarta Latih Petani Depok Olah Rambut Jagung Jadi Kombucha

29 October 2026 - 10:30 WIB

Tim dosen bersama mahasiswa Program Studi Gizi dan Fakultas Kedokteran UPN “Veteran” Jakarta melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi gizi dan pelatihan pemanfaatan pangan bagi kelompok tani di Depok. (Ist.)

Pidato Pengukuhan Guru Besar, Dosen Unpad Ini Singgung Kebijakan Gubernur KDM

8 July 2025 - 11:48 WIB

CME dan Universitas Prasetiya Mulya Berkolaborasi Gelar Business Economic Conference 2025

25 March 2025 - 18:25 WIB

Deep Learning dan Kurikulum Cinta untuk Penguatan Kompetensi Guru Indonesia

23 March 2025 - 12:39 WIB

Dua Periode Rezim Jokowi Hobi Impor Beras, Total 13,4 Juta Ton Senilai Lebih Rp100 triliun

31 December 2024 - 06:04 WIB

ilustrasi impor beras.
Populer Berita Analisis