Menu ✖

Dark Mode
Talkshow “Ada Apa dengan Negeriku” Soroti Kasus Ijazah dan Skandal Jiwasraya Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta Boyamin: Permintaan Pengembalian Aset Justru Menguatkan Dugaan Kepemilikan Febrie Adriansyah Daftar Kekayaan 7 Kandidat Kapolri Pengganti Listyo Sigit Prabowo Isu Ganti Kapolri Kian Kencang, Ini Kriteria Pengganti Listyo Sigit Prabowo

Opini

Waspadalah, Indonesia Memasuki Siklus Reset Peradaban

Avatarbadge-check


					Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen).
Perbesar

Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen).

Jakarta, Indonesiawatch.id – Fenomena Reformasi sebagai tatanan politik demokrasi dan kekuasaan supremasi sipil telah berlangsung hampir tiga dasawarsa. Namun, alih-alih menunjukkan rekonstruksi tata kelola politik, ekonomi, hukum, dan sosial yang berlandaskan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan, bangsa ini justru berada pada titik nadir krisis identitas dan kepercayaan.

Pergantian kepemimpinan nasional pada 2024 ternyata tak lebih dari sekadar seremonial kenegaraan. Ekspektasi publik akan hadirnya sosok presiden berwatak negarawan, yang setiap ucapan dan tindakannya semata-mata demi kemaslahatan rakyat, tampaknya masih jauh panggang dari api.

Realitas kebijakan negara saat ini hanya berkutat pada upaya mempertahankan dan mengamankan warisan (legacy) kekuasaan sebelumnya. Kebijakan negara semata-mata dikerahkan demi merawat status quo.

Oligarki dan pejabat tinggi yang merampok uang negara tetap memperoleh kemewahan (luxury) dan hak istimewa (privilege), sementara rakyat tidak pernah beranjak dari posisi semula sebagai pihak yang selalu dikorbankan. Kedaulatan politik dan hukum semakin dijauhkan dari rakyat sebagai pemilik sahnya.

Makna negara yang semestinya dikemas dari nilai sejarah, budaya, adat istiadat, serta perilaku kolektif yang membentuk identitas bangsa, kini kian terkikis oleh perilaku jahiliah para pemimpinnya.

Tugas mulia negara untuk melindungi segenap tumpah darah telah bergeser fungsi menjadi sekadar alat pemuas syahwat kekuasaan para pemangku kebijakan. Negara memang tetap berdiri, tetapi ia tegak di atas pondasi kebohongan, muslihat, dan kelicikan pemimpinnya.

Siklus peradaban Indonesia sesungguhnya sedang berputar mengelilingi orbit kehidupan dari keterpurukan menuju kehancuran, akibat runtuhnya legitimasi rakyat atas kekuasaan negara dan tersisihnya pemimpin bangsa yang amanah.

Membaca riwayat perjalanan rakyat kecil di negeri ini sejak Indonesia merdeka hingga kemerdekaan kehilangan makna spiritualnya, mereka tidak pernah beranjak dari kemiskinan dan proses dimiskinkan, dari ketidakadilan hingga kezaliman. Bagi mereka yang dangkal akidahnya, potret rakyat kecil yang merana ini seakan mengesankan Tuhan sedang menutup mata dan abai.

Namun sesungguhnya, rakyat yang berbekal kesabaran demi mengharap rida Allah SWT sedang digembleng untuk hancur lalu bangkit kembali. Mereka adalah bangsa tangguh yang tidak lekang didera kesewenang-wenangan pemerintahnya sendiri; bangsa yang pantang surut ke belakang sebagai tanda menyerah karena di nadinya mengalir darah kesatria dan syuhada.

Sudah saatnya rakyat kecil berani meneriakkan slogan “ini dadaku, mana dadamu”, mengingat peluang untuk merebut kembali masa depan kini sudah ada di depan mata.

Dalam perspektif sejarah makro, Indonesia telah memasuki tahapan siklus reset peradaban. Ini adalah fase ketika alam mengambil alih untuk melakukan seleksi alamiah tanpa bisa diintervensi oleh kekuatan politik mana pun.

Reset peradaban yang digerakkan oleh kekuatan mahadasyarat ini akan meluluhlantakkan semua simpul kekuasaan otoritarian beserta instrumen pelindung yang sengaja dibangun negara untuk melanggengkan ketamakan dan kecongkakan para pemangku kebijakan.

Mekanisme pembersihan total ini merupakan syarat mutlak demi meraih visi Indonesia Emas 2045. Sejatinya, proses ini telah dimulai pasca-lengsernya kekuasaan Joko Widodo yang dipandang sebagai periode “cacat peradaban”.

Reset peradaban akan digerakkan oleh kekuatan alam semesta untuk menyortir manusia Indonesia yang patut menikmati kejayaan seabad kemerdekaan nanti. Instrumen negara seperti aparat, partai politik, oligarki, politisi, hingga gerombolan penyembah konsep serakah-nomic akan menjadi target utama mesin pembersih ini.

Al-Qur’an telah menorehkan kisah-kisah kaum terdahulu yang binasa akibat kesombongan dan kecongkakannya, hingga tak ada lagi kebaikan yang tersisa di dalam hati mereka.

Ketika eksistensi ketuhanan hanya dijadikan kemasan politik untuk menutupi wajah bopeng para penguasa, maka punahnya suatu kaum bukan disebabkan oleh serangan musuh dari luar. Kekuatan alam mahadasyarat-lah yang akan melenyapkan mereka dari muka bumi, sebagaimana yang terjadi pada kisah kaum Nabi Nuh.

Oleh karena itu, kepada rakyat kecil di negeri ini, janganlah berkecil hati ketika pemimpin tertinggi tidak berpihak pada kemaslahatan kalian. Sesungguhnya, janji Allah SWT selalu nyata dan senantiasa bersama umat-Nya yang teraniaya.

Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis

Berita Terbaru

Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta

21 August 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi kemiskinan di Aceh di tengah kekayaan Sumber Daya Alam (Sumber: Pembuatan gambar ilustrasi didukung AI).

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

3 May 2026 - 19:19 WIB

Ilustrasi tagar.

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)
Populer Berita Opini