Menu ✖

Dark Mode
Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta Boyamin: Permintaan Pengembalian Aset Justru Menguatkan Dugaan Kepemilikan Febrie Adriansyah Daftar Kekayaan 7 Kandidat Kapolri Pengganti Listyo Sigit Prabowo Isu Ganti Kapolri Kian Kencang, Ini Kriteria Pengganti Listyo Sigit Prabowo LBH Peradi Profesional: Polisi Dilarang Pakai Teknik Investigasi Terselubung di Tindak Pidana Migas

Opini

Menakar Dwi Fungsi TNI Ala Presiden Prabowo

Avatarbadge-check


					Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen).
Perbesar

Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen).

Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Ban Anderson dalam bukunya menulis, bahwa Nasution adalah arsitek transformasi kekuatan gerilya revolusioner di era 1945 – 1949, menjadi kekuatan politik konservatif, kemudian mendominasi dan menguasai panggung politik nasional sejak era 1950 an.

Oleh karena itu Jenderal Besar Purn Nasution disebut sebagai bapak dwi fungsi ABRI. Walaupun realitanya Nasution mengalami kegagalan, ketika ingin membawa TNI menjadi kekuatan politik full power, dengan membentuk partai IPKI.

Dalam praktiknya terutama di era orde baru, dwi fungsi TNI mengedepankan peran utama TNI sebagai alat pertahanan dan keamanan negara, juga mengemban peran politik dalam percaturan politik nasional.

Setelah 27 tahun reformasi yang dipandang kebablasan, peta politik nasional kembali dipimpin presiden Prabowo, dengan latar belakang militer nasionalis. Mengamati gebrakan awal presiden Prabowo, mulai muncul rumor tentang “militer kembali eksis” dalam panggung politik nasional.

Nampaknya cukup beralasan, ketika muncul “aroma bau mesiu” di ranah supremasi sipil, pasalnya presiden Prabowo mulai menyertakan prajurit TNI aktif, kedalam jabatan yang selama ini diklaim sebagai wilayah sipil. Tetapi dwi fungsi TNI versi presiden Prabowo, berbeda dengan dwi fungsi ABRI versi Nasution yang membangun hubungan sipil-militer, dimana militer sebagai kendali utama.

Dwi fungsi ala presiden Prabowo dapat dimaknai sebagai upaya politik “jalan tengah”. Prabowo melihat TNI dengan latar belakang sejarah dan jati diri sebagai tantara rakyat, tantara pejuang dan tantara nasional, tidak bisa dipisahkan dari dinamika kehidupan rakyat.

Sementara realita kehidupan berbangsa bernegara sangat dipengaruhi oleh potensi tantangan yang multi dimensional, maka presiden Prabowo melihat pentingnya partisipasi aktif prajurit TNI, untuk ikut menyelesaikan persolan bangsa yang kompleks.

Dwi fungsi TNI “jalan tengah” ala presiden Prabowo, memang belum menunjukan adanya gejala penggunaan TNI sebagai kekuatan politik untuk mengawal kebijakan politik pemerintahan Prabowo. Justru dalam konteks politik militer, presiden Prabowo sangat hati-hati, agar reformasi TNI yang terus berjalan tidak mubazir.

Bahkan terlihat kepemimpinan Prabowo yang berlatar belakang militer, dipandang oleh sipil, masih terlalu mengedepankan politik kompromi terhadap anasir kekuatan politik yang mbalelo.

Padahal dalam konteks mengembalikan jalannya tata kelola pemerintahan on the track, dibutuhkan tindakan tegas, cepat dan terukur dari presiden Prabowo, mengingat krikil dalam sepatu kekuasaan presiden Prabowo, semakin berpotensi melukai kaki itu sendiri.

Hari ini publik menunggu gebrakan progresif presiden Prabowo, menghadapi rongrongan kekuatan politik abal-abal yang memecah belah bangsa dan melulu berorientasi untuk merebut kekuasaan negara pada 2029.

Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis

Berita Terbaru

Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta

21 August 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi kemiskinan di Aceh di tengah kekayaan Sumber Daya Alam (Sumber: Pembuatan gambar ilustrasi didukung AI).

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

3 May 2026 - 19:19 WIB

Ilustrasi tagar.

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)
Populer Berita Opini