Menu ✖

Dark Mode
Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta Boyamin: Permintaan Pengembalian Aset Justru Menguatkan Dugaan Kepemilikan Febrie Adriansyah Daftar Kekayaan 7 Kandidat Kapolri Pengganti Listyo Sigit Prabowo Isu Ganti Kapolri Kian Kencang, Ini Kriteria Pengganti Listyo Sigit Prabowo LBH Peradi Profesional: Polisi Dilarang Pakai Teknik Investigasi Terselubung di Tindak Pidana Migas

Opini

Stockholm Syndrome dan Sang Presiden

Avatarbadge-check


					Ilustrasi Stockholm syndrome. Perbesar

Ilustrasi Stockholm syndrome.

Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)

Jakarta, Indonesiawatach.id – Sebagai bangsa dengan sejarah hebat yang melahirkan para pahlawan bukan kaleng-kaleng, ternyata hari ini kita hanya korban tipu daya oknum pejabat negara, penegak hukum abal-abal.

Dalam setiap peristiwa besar mengguncang negara ini, dapat dipastikan rakyat menjadi korban terbesar. Kemudian rakyat pula yang dituding sebagai biang kerok terjadi rusuh massal. Seperti peristiwa aksi demo 25 Agustus – 1 September 2025 yang lalu, korban terbesar berada dipihak rakyat.

Akhirnya rakyat pula yang harus menderita ditangkap aparat keamanan dengan tuduhan merusak, memprovokasi dan menjarah. Kini bukan saatnya lagi rakyat diam dan menyerahkan nasibnya di tangan penguasa yang sesungguhnya tidak lebih dari “sekawanan bandit”.

Mari dengan akal sehat kita urai siapa sesungguhnya otak udang dibalik aksi rusuh 25 Agustus 2025. Berawal dari berseliwerannya ajakan demo di laman media sosial, disinyalir diposting oleh “revolusi rakyat Indonesia”, berisi narasi gugat Jokowi dan makzulkan Gibran melalui mekanisme DPR.

Tetapi beberapa saat kemudian ajakan demo berubah narasi tuntutan menjadi “bubarkan DPR” yang disebar melalui youtuber nusantara dan Cokro tv. Ketika aksi demo meluas dan mengarah ke aksi anarkis, muncul gerombolan berseragam polisi, dengan kendaraan taktis melindas pengemudi ojol hingga meninggal.

Bersamaan dengan situasi terus memanas, terjadi pembakaran kantor dan pos polisi, kemudian beredar statement seorang wanita kesurupan arwah srikandi, dengan melontarkan kalimat “menghujat presiden Prabowo”, ternyata pernyataan wanita kader PSI tersebut, disambut dengan pernyataan dari Laskar Cinta Jokowi “mendesak presiden Prabowo mundur dari jabatannya karena gagal menjaga situasi stabilitas keamanan nasional”.

Dimana peran rakyat yang dianggap memicu dan memprovokasi terjadinya aksi anarkis . Tapi mengapa di akhir rusuh, selalu rakyat dikejar, ditangkap dan digebukin oleh mereka yang selalu mengklaim sebagai aparat keamanan, dengan mengatas namakan demi penegakan hukum dan undang-undang.

Amat kasat mata untuk mengurai siapa otak pelaku aksi demo anarkis kemarin. Di sana ada kubu genk Solo, ada oknum anggota DPR, ada oknum polisi. Apalagi yang ditunggu presiden Prabowo, ketika para gembong pelaku kerusuhan sudah berada di depan mata.

Masihkah presiden Prabowo mempertimbangkan kepentingan politik tetek bengek yang tidak ada kaitan dengan kemaslahatan rakyat. Apalagi yang harus diragukan oleh presiden Prabowo, ketika rakyat sudah memandatkan kekuasaan negara dan kekuasaan pemerintahan ditangannya. Dengarlah suara nurani rakyat, usut kasus yang menyebut nama Jokowi, ganti Kapolri, Panglima TNI dan Jaksa Agung yang telah menebar ketidak adilan.

Presiden Prabowo tidak perlu lagi bersembunyi dibalik retorika “politik sandera”, selalu dihantui oleh “terror abal-abal” dan aksi penjarahan rumah dari bekas presiden. Rakyat sudah mengeluarkan maklumat ultimatum “kejar bekas presiden hingga keliang lahat”.

It’s now or never, cukup sudah peristiwa kerusuhan yang lalu sebagai akhir dari episode Indonesia gelap, karena Indonesia milik rakyat yang selama ini tertindas, bukan milik keluarga bekas presiden.

Ingat rakyat adalah hukum tertinggi di negeri ini. Semudah membalik telapak tangan untuk melengserkan keprabon presiden. Semoga tidak ada gejolak lebih besar dengan alasan presiden tidak dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya, karena terjangkit Stockholm syndrome. Demi Indonesia lebih baik.

Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis

Berita Terbaru

Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta

21 August 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi kemiskinan di Aceh di tengah kekayaan Sumber Daya Alam (Sumber: Pembuatan gambar ilustrasi didukung AI).

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

3 May 2026 - 19:19 WIB

Ilustrasi tagar.

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)
Populer Berita Opini